Kamis, November 20, 2008

Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera Kematian Para Teroris Indonesia



Sepekan lalu, terpidana bom Bali Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera, dieksekusi mati. Serangkaian cerita, mengitari kematian ketiga bomber. Cerita yang mengarah pada pembangunan asumsi untuk menegaskan kesyahidan para pelaku bom.

Cerita tersebut muncul dari inner circle ketiga terpidana bom Bali I, baik oleh keluarga maupun para simpatisan tiga terpidana mati bom Bali. Cerita seperti terciumnya bau wangi di ketiga jenazah, burung gagak di atas rumah ketiga terpidana, hingga muka senyum di ketiga jenazah terpidana mati tersebut.

Cerita-cerita tersebut pada akhirnya dikaitkan dengan status kesyahidan ketiga terpidana mati. Artikel di muslimdaily.net menguatkan cerita soal kesyahidan ketiga terpidana.

Disebutkan tentang kesaksian para penakziah di rumah ibu Tariyem. Ketika keranda jenazah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. "Allahu Akbar. Itu bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid," ujar Abdul Rachim, salah seorang tamu yang melihat ketika kafan dibuka.

Tidak hanya itu, Rachim menegaskan, ketika kain penutup wajah Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat.

Untuk memperkuat cerita-cerita tersebut, telah beredar di internet perihal wajah ketiga terpidana mati. Foto tersebut seakan menegaskan argumentasi kesyahidan ketiga pelaku bom Bali yang menewaskan 202 orang tersebut.

Guru besar ilmu syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hasanudin AF menegaskan dalam Islam tidak ada soal penanda kesyahidan seseorang. “Sejak zaman nabi, tidak ada soal tanda-tanda kesyahdian seseorang seperti buruk gagak, dan bau wangi,” katanya

Menurut dia, kesyahidan bisa dilihat dari aspek dunia dan akhirat. Menurut dia, jika merujuk syahid era rasulullah, seseorang mati syahid ketika terlibat kontak fisik dalam membela Islam dan meninggal dalam peperangan. “Seperti para sahabat dulu, gugur dalam keadaan syahid, karena membela agama Allah,” jelasnya.

Terkait dengan cerita yang lebih dekat dengan mitos tersebut, menurut Hasan, hal tersebut adalah tidak benar dan tidak ada dalam literatur agama Islam. “Itu berita bohong yang mengada-ada. Hanya sebagai upaya untuk mendukung apa yang dilakukan oleh Amrozi cs,” katanya.

Terkait dengan pemahaman jihad yang dilakukan oleh Amrozi, menurut dia apa yang dilakukan Amrozi dan kawan-kawan telah merugikan banyak orang. “Jihad Amrozi cs dalam konteks apa,” katanya setengah bertanya.

Bila merujuk teks-teks al-Quran dan al-Hadits, jihad dilakukan dengan harta dan potensi diri yang dimiliki seseorang. Jihad melawan kemiskinan dan kebodohan adalah bagian jihad yang dianjurkan oleh Allah dan Islam. “Jihad dengan harta dan dengan potensi diri itulah yang dianjurkan oleh Islam,” katanya.

Bila merujuk perilaku keberagamaan kelompok Amrozi cs, tampaknya cerita-cerita seputar kesyahidan tiga bomber Bali tersebut seakan paradoksal dengan pemahaman keagamaan yang mereka anut selama ini. Pemahaman keagamaan yang cenderung tekstual, literalis, dan skripturalis yang mengarah pada puritanisme, tapi tiba-tiba saat ini memunculkan cerita yang menjurus mitos. Cerita burung gagak, bau wangi dan keringat di jenazah, sama saja menyebarkan kesesatan berpikir dalam memahami Islam.

1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj. Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba'asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan.

2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat beliau.

3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri 'Mujahid Hacker' Imam Samudera.

4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin, kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.

5. Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror, Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan. Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur


Tentang burung Gagak burung pembawa maut

Saat pemakaman trio Bali bomber usai dieksekusi pekan lalu, banyak bermunculan kejadian tak biasa, yang dinilai sebagian kalangan sebagai pertanda bahwa Amrozi Cs itu telah mati syahid.

Memang dikabarkan ada kejadian aneh saat pemakaman tiga terpidana mati itu, yaitu munculnya tiga burung hitam yang seolah ikut menyambut dan mengantarkan ketiganya ke tempat peristirahatan terakhir.

Belum lagi kabar bahwa saat kafan Imam Samudra dibuka, seketika itu juga semerbak wangi muncul dari jasadnya.

Namun sejumlah ulama mengaku belum ada dalam Quran yang menyebutkan tanda-tanda orang yang mati syahid.

Tapi ketika sebagian kalangan menilai tiga terpidana mati kasus bom Bali itu mati syahid, sontak sebagian kalangan yang lain mematahkan penilain itu, karena Amrozi Cs itu telah mengakibatkan terbunuhnya muslim.


Menurut pandangan KH Sumarkan, dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Amrozi Cs telah melakukan pembunuhan karena di antara korban bom Bali I ada yang beragama Islam.

"Mereka (Amrozi cs) bukan mati syahid karena di antara yang meninggal itu ada yang beragama Islam," kata Sumarkan saat dihubungi, Sabtu (15/11).

Menurutnya, sesuai ajaran Islam sesorang tidak boleh membunuh namun diperbolehkan jika seseorang mempunyai kesalahan yang sama yaitu nyawa dibalas dengan nyawa. "Kenyataannya korban bom Bali tidak punya kesalahan," imbuhnya.

Sementara KH Ghazali Said, pengasuh pondok pesantren An-Nur Wonocolo Gang Mudin, mengatakan mati syahid mempunyai dua kriteria.

"Ada dua kreteria mati syahid yaitu mati syahid dunia (orang yang mati karena kena tabrak atau mati karena melahirkan) yang kedua mati syahid akhirat (mati karena berperang untuk menegakkan kalimat Allah)," terang KH Ghazali Said.

Sedangkan jika Amrozi masuk di antara salah satu kriteria tersebut, baru mereka itu dikatakan mati syahid.

"Warga di Bali itu termasuk Kafir Dzimmi yang seharusnya mendapat perlindungan dari umat Islam bukan malah dibunuh," ungkap KH Ghazali Zaid.

Dengan demikian Amrozi Cs pantas menerima hukuman dari pemerintah karena masuk kategori kerusuhan atau teroris, maka dari itu mereka harus menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Burung gagak dikenal sebagai burung setan pembawa maut, diman setiap kedatangannya di tandai dengan kematian, burung gagak sangat senang sekali datang pada kematian penyihir, pembunuh, dan orang jahat lainnya. Begitulah menurut para ahli sufi.


Kekuatan Gaib pada makam Amrozi
dan Mukhlas

'Daya pikat' duo bomber asal Tenggulun, Amrozi dan Mukhlas, memang luar biasa. Meski telah dieksekusi mati, Amrozi cs masih jadi 'rebutan'. Gundukan tanah makamnya kini jadi rebutan para peziarah.

Sejak dimakamkan pada 9 November lalu, makam Amrozi cs yang terletak di Sokoluro, Lamongan, Jawa Timur, memang tidak pernah sepi didatangi perziarah. Namun, kini beberapa orang yang datang tidak hanya sekadar mendoakan arwah Amrozi. Tanah kuburan tersebut juga ikut diangkut sebagai 'oleh-oleh'.

"Selama dua hari ini gundukan tanah yang di kuburan sudah habis diambil para tamu,” kata Ali Fauzi, adik Amrozi.

Dalam sehari, jumlah peziarah yang datang ke makam kedua kakaknya itu bisa mencapai 10-15 orang. Dan hampir semua peziarah mengambil tanah makam Amrozi dan Mukhlas yang dimakamkan berdampingan.

"Satu orang membawa dua kantong plastik. Kalau 15 orang saja berarti sudah 30 kantong tanah," ujar Fauzi.

Karena itu, kini makam Amrozi dan Mukhlas pun dijaga oleh belasan santri dan ustad. Pihak keluarga juga membangun sebuah gubuk yang berada di dekat makam kedua kakak beradik itu. Terlebih, kondisi makam sudah kembali seperti semula.

"Kami menjaga makam karena takut ada orang yang percaya takhayul dengan mengambil kafannya untuk ilmu kesaktian," katanya.

Dalam pandangan paranormal Permadi, fenomena mengambil tanah makam adalah hal biasa. Kalangan yang menganut kepercayaan tertentu adalah pihak yang kerap melakukan hal itu. "Memang kadang tanah itu bisa digunakan untuk jimat ataupun guna-guna," jelas Permadi

Pria yang kerap memakai pakaian serba hitam ini menjelaskan fenomena ini hanya akan muncul sesaat saja. Sebab, Amrozi cs telah digambarkan sebagai pahlawan. Padahal, tanah tersebut, dinilai Permadi, tidak ada gunanya.

"Ini pemahaman orang yang sangat dangkal karena Amrozi sebagai pahlawan dan tanahnya diambil untuk jimat. Mereka tidak mengerti apakah itu kuburan keramat atau bukan," tegas Permadi.


Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Ma'ruf Amin berpendapat tindakan sejumlah peziarah ini sudah termasuk syirik. Sebab dalam tuntunan Islam tidak ada suruhan untuk membawa tanah kuburan usai berziarah. Yang ada dalam tuntutan Islam hanya sekadar berziarah semata.

"Kalau tidak diluruskan pengambilan tanah kuburan itu bisa mengarah ke syirik," kata pria yang menjabat Ketua Komisi Fatwa MUI ini.


Di mata budayawan, Radhar Panca Dahana, adanya insiden ini membuktikan tingkat spiritualitas masyarakat Indonesia rendah. Alhasil, masyarakat secara gampang mengambil simbol atau sosok seseorang secara sembarangan.

"Pengambilan tanah kuburan Amrozi dan Mukhlas merupakan fenomena yang menggelikan. Itu adalah kebodohan kita. Apalagi, para pemimpin agama mengalami krisis, seperti soal perkawinan dan korupsi," kata Radhar.


Radhar menilai pemberitaan televisi mengenai Amrozi cs telah membuat masyarakat terkesima. Amrozi dan Mukhlas disoroti seputar kehidupannya termasuk masalah spiritualnya. Dan inilah yang menyebabkan Amrozi cs terkesan bukan manusia 'biasa'. "TV bertanggung jawab terhadap pendangkalan itu," tegas dia


MUI boleh saja tidak menyikapi fenomena ini secara khusus. Akan tetapi, memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai tuntunan Islam terutama mengenai ziarah kubur hendaknya lebih gencar disosialisasikan. Sehingga fenomena miris seperti ini tidak perlu terjadi lagi.



Angka 911 Untuk Para Teroris

Angka 911 kerap dikaitkan dengan aksi teror. Pasalnya, sejumlah tragedi terorisme kerap terdapat angka 911 didalamnya. Sebut saja di antaranya tragedi pengeboman di World Trade Centre (WTC).

Sebagaimana diketahui, peristiwa yang menewaskan lebih dari 2.000 orang ini terjadi pada 11 September 2001. dari peristiwa itu, kerap disebut istilah tragedi 911, karena terjadi pada tanggal 11 bulan 9.

Selain itu, Indonesia juga pernah digegerkan dengan peristiwa ledakan bom di depan Kantor Kedubes Australia pada 9 September 2004. kendati tanggal dan bulan sama-sama angka 9, namun peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 11.00 WIB. lagi-lagi melibatkan angka 911.

Kasus pengeboman di Jalan Rasuna Said, Jakarta, tersebut juga menimbulkan kontroversi lainnya. Dimana, pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi jumlah korban sebanyak 9 orang. Namun, pemerintah Australia menyatakan bahwa korban ledakan tersebut berjumlah 11 orang.

Begitupun dengan Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ketiga pelaku pengeboman di Bali pada 12 Oktober 2002 ini telah dieksekusi pada tanggal 9 November kemarin. Dalam eksekusi tersebut, muncul pula angka 911, karena pada tanggal 9 dan bulan 11.

Bertahun-tahun mereka mendekam di LP Nusakambangan. Pemerintah memutuskan tanggal 9 November 2008 untuk mengeksekusi ketiganya. Mengapa pemerintah mengeksekusi pada 9 November? Apakah angka 911 memiliki makna dibalik pelaksanaan eksekusi ketiganya?

Sumber:
http://mafiaindonesia.blogspot.com

14 Comment:

Anonim mengatakan...

bukan bau bunga kali melainkan bau bangke

AGAMA ADALAH SUATU PERSEKONGKOLAN on Min Sep 06, 11:03:00 PM 2009 mengatakan...

AKHIR 2002 SEBAGIAN KECIL DENPASAR DI HANCUR OLEH KEKUATAN ORANG DENGAN SEMANGAT KEBENCIAN KEFANATIKAN DAN BER AGAMA ISLAM TUHAN DIAM MELIHAT SELAMA BEBERAPA SAAT TERNYATA DALAM BEBERAPA SAAT ITU TUHAN JUSTRU MELIHAT PENYIMPANGAN TERNYATA PEMBUNUHAN ITU MALAH DI PUJA DI DUKUNG KARENA TUHAN MENCINTAI UMATNYA TUHAN SEGERA MEMBERI TANDA BESAR MUZIZAT BESAR DI AKHIR 2004 DENGAN MENGHANCURKAN ACEH SERAMBI MEKAH LEBIH BANYAK ISLAM DI SANA DENGAN TANGANNYA SENDIRI NAH APAKAH SODARA SODARA ISLAM MASIH MENUTUP MATA DENGAN MUZIZAT INI

Anonim mengatakan...

Wallahu a'lam,,
insya ALLAH mereka syahid fisabilillah yg di bali.

Anonim mengatakan...

Wajah jenasah berkeringat tanda kesyahidan ? Ada2 saja. Saya sering melihat wajah/tubuh jenasah berkeringat di kampung saya. Selain itu ada istilah regangan otot mayat yg bisa menggerakan tangan, kaki, bahkan punggung sehingga mayat spt bergerak beberapa saat kemudian kembali posisi normal lagi. Sayang sekali blog ini tdk menulis pendapat kedokteran dlm hal ini.
Masyarakat telah terjebak dlm pikiran pagan / mistik dlm melihat masalah ini.

omndutz on Sen Okt 11, 07:09:00 PM 2010 mengatakan...

(quote) Guru besar ilmu syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hasanudin AF menegaskan dalam Islam tidak ada soal penanda kesyahidan seseorang. /quote)
Itu guru besar UIN harus belajar agama lagi dari dasar d ... tanda-tanda orang mati syahid banyak trdapat di hadis2 qudsi .. salah satunya yaitu : "adalah Buraidah (Buraidah Ibnul Kasib) dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,"Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya" (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas'ud)

Itu baru satu .. lainnya biar si "GURU BESAR" nyari sendiri .. klo g ktemu suruh turun jd dosen syariah !!

netral mengatakan...

omndutz, yg pasti mereka (Amrozi cs)tidak menyebarkan cinta kasih Allah.
Tidak ada ajaran ttg kebencian yg berasal dari Allah. Yang ada cinta kasih, memaafkan, mendoakan agar yang sesat jadi baik. Kalo kalian yang "sudah merasa benar dan suci" lalu berhak menghakimi, kalian patut introspeksi. Maaf kalo saya salah, memang saya tidak tahu tentang ilmu agama, namun saya hanya berusaha untuk menyayangi sesama mahluk ciptaan Allah. Semoga kita semua bisa menemukan kebenaran yg memang benar-benar benar.

Anonim mengatakan...

ga ada kebenaran sejati dibumi..................

Anonim mengatakan...

Kalimat Syahid, adalah kalimat "misterius", sebab ada orang yang menurut manusia dia mati syahid, tapi belum tentu syahid di hadapan Allah. begitu pula sebaliknya, ada yang menurut manusia dia mati dalam kehinaan, tetapi di hadapan Allah dia adalah syuhada. tetapi menegakkan agama adalah benar, tetapi kalo melakukan pembunuhan secara membabi buta tanpa didasari syari'at agama, itu yang salah. Allah melalui rasul-Nya telah mengajarkan, bagaimana cara berperang dan bagaimana cara menegakkan agama.

Anonim mengatakan...

menurut saya pemrintah dan amrozi cs sama2 salah. karena telah menghilangkan nyawa orang lain. nyawa itu pemberian Tuhan dan yang berhak mencabutnya adalah Tuhan. tidak ada alasan apapun untuk menghilangkan nyawa orang lain, kecuali terpaksa karena membela diri. untuk alasan lain apapun itu saya rasa gak ada.

Anonim mengatakan...

Amrozi cs semoga syahid

Anonim mengatakan...

Tuhan telah menunjukkan kebesarannya saat terjadi gampa dan tsunami di Aceh, yg mayoritas beragama Islam. Apakah ini merupakan balasan dari Tuhan?Apakah karena orang2 munafik yang membunuh dengan penuh kebencian yg telah mengatasnamakan nama-Nya malah dipuja2 dan dianggap pahlawan?

Anonim mengatakan...

Kalau menurut saya bulir2 keringat itu menunjukkan dia sudah sampai di tujuan (Neraka Jahanam)

Anonim mengatakan...

Salam 3 jarii buat trio bandit tuch,kayaknya mreka dikejar ama korbannya 202 tuhh.

Denniar Sanova on Sab Nov 21, 06:26:00 PM 2015 mengatakan...

Siapa pun tdk berhak membunuh manusia atas manusia,kacuali perang atau penghinaan atas agama Islam, mari kita saling bertoleransi dan berbaik pd semua orang tanpa membedakan agama ras dan sosial,

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda, atau tamba informasi anda jika ada.

 

Chat With Girls

Sumber Dana

Term of Use

Semua bebas di copy paste tanpa syarat dan ketentuan apapun, semua artikel tidak perlu anda percaya anggap saja dongeng mitos atau apapun itu menurut anda. Karena jika anda percaya kehidupan anda akan berubah, perkumpulan rahasia or secret societies akan terus memburu anda dan berkata semua ini hanya kebohongan.
Copyright © 2004-2009 by Bisnis Manado